Sedikit tentang Subak Pulagan

Pulagan berasal dari dasar kata “Pulaga” yang berarti utama, yang disimbulkan dengan Pulu, yaitu tempat beras. Subak pulagan berdiri sekitar tahun 1500 Masehi, yang dulunya disebut Subak Tampaksiring yang berada di bawah kendali kerajaan Tampaksiring. Dalam perjalanannya Subak Pulagan tidak terlepas dari pola budidaya organik dengan tatanan upacara subak melalui 11 tahapan sesuai kearifan lokal mengacu kepada konsep Tri Hita Karana. Beras, Keong dan Belut Pulagan merupakan salah satu keistimewaan Subak Pulagan sebagai syarat wajib untuk upacara keagamaan yang dilaksanakan di Seluruh Bali. Wilayah subak pulagan terdapat 3 pura peninggalan sejarah, yaitu Pura Bedugul yang berada di hulu, Pura Pulagan yang terletak di tengah, Pura Dalem Tambug yang yang berada di hilir dan juga terdapat Lingga Yoni dan arca yang berjumlah 18 di wilayah Pura Pulagan yang merupakan peninggalan purbakala. Serta telah diakui sebagai WBD (Warisan Budaya Dunia).

Anda bisa melakukan

Cycling

Cycling

Bersepeda santai sambil menikmati pemandangan yang asri.

Trekking

Trekking

Telusuri pematang sawah atau lewati jalur di sisi tebing untuk menemukan pemandangan yang indah.

Learning

Learning

Pelajari sistem pengairan sawah yang masih tradisional (subak) atau melakukan penelitian di bidang pertanian.

Lakukan apapun

Lakukan apapun

Mengikuti aktivitas para petani, berjalan - jalan dan bersantai bersama keluarga.

Galeri

Berita

Tahap Pertama Tatanan Subak

Konsep pertanian berdasarkan ajaran Tri Hita Karana, dengan tetap mengacu kepada adat istiadat dan kearifan lokal. Tahap I prosesi penanaman adalah Upcara Muat Emping (mensucikan air) yang dilaksanakan di sumber mata air atau bendungan yang akan mengairi sawah di Subak Pulagan air diberikan anugrah pengairan yg bersih serta berkelanjutan. Dilanjutkan dengan acara Mungkah Tanah (Pencangkulan […]

Kunjungan dari Kabupaten Mamuju

Kunjungan darr kabupaten Mamuju dan 6 kabupaten lainya (Sulawesi Barat) ke Pulagan untuk belajar Pertanian Organik dengan kearifan lokal dan nilai-nilai TRI HITA KARANA